Pengalaman Unik Berwisata Di Negri Kamboja

Pengalaman Unik Berwisata Di Negri Kamboja

Siapa yang pernah memiliki pengalaman unik berwisata di negri kamboja? Mungkin banyak dari orang Indonesia yang melakukan wisata keluar negri ke negara ini. Selain ingin melihat langsung keajaiban dunia berupa candi yang bernama Angkor Wat ada juga yang penasaran seperti apa sih negara khmer merah itu.

Mungkin jika bukan karena suami sedang mencari sesuap nasi dengan bekerja sebagai cs agen judi poker idnplay di negri ini. Sayapun tidak mempunyai kesempatan datang. Maklum saja saya kan cari tiket gratisan siapa yang mau kasih tiket gratisan kalau bukan karena jatah bertemu suami tercinta.

Awal Mula Pengalaman Unik Terjadi Di Negri Kamboja

Ini kali kesekian saya menginjakkan kaki di Kamboja tepatnya di Ibu kota Phnom Penh. Yupp negara yang sebenarnya baru membangun karena dimana-mana terlihat pembangunan disegala bidang. Mulai pembangunan jalanan sampai gedung-gedungnya, Jalanan di sini lumayan lebar hanya saja dipinggirnya masih tanah belum beraspal ataupun jarang yang ada trotoarnya. Jadilah kalau berjalan-jalan diluar disarankan memakai masker karena jalanan berdebu

Pertama yang saya bisa perhatikan dari negri ini adalah ngintip suasana bandaranya. Ketika saya lihat kesan pertama adalah biasa saja menurut saya. Namun ada ornamen yang khas dari negara Kamboja terpampang di dalam bandara jadilah bandaranya terlihat lebih kelihatan keren. Jika tidak ada ornament tersebut mungkin kesan yang dilihat tak ada yang special. Bandara internasional Kamboja tersebut bernama bandara Phnom Penh atau bandara Internasional Pochentong.

Ada satu lagi yang menarik perhatian saya di bandara yaitu terdapat gerobak yang berisi aneka hasil bumi berupa labu, pisang, kelapa muda, dan aneka sayuran lainnya dan sebuah meja tersusun beberapa makanan dan buah-buahan. Menurut orang Kamboja tempat itu adalah sebuah tempat meletakkan sesajen. Hemm ternyata kepercaya orang Kamboja pun diperlihatkan di bandara yang notabane banyak orang asing yang dapat melihatnya. Good job deh buat Kamboja, jadi kelihatan unik.

Melangkah keluar dari bandara saya perhatikan suasana kehidupan masyarakat Kamboja yang sungguh bersahaja, penuh kesederhanaan dan tak jarangpun saya boleh merasa iba. Banyak anak-anak kecil yang menjajakkan daganganya, entah itu jualan minuman ataupun makanan dan banyak juga yang berjualan cendramata.

Melihat becak yang unik karena hanya muat satu orang kalau mau dipaksain 2 orang yang satu anak-anak. Orang Kamboja terlihat banyak yang langsing daripada yang gembrot. Entah kenapa atau karena orang di Kamboja lebih banyak mengkonsumsi banyak buah dan sayur jadilah mereka terlihat banyak yang langsing dimata saya.

Kamboja tepatnya di ibu kota Phnom Penh tidak lebih bersih dari Indonesia dan tidak juga lebih kotor dari Indonesia budaya membuang sampah pada tempatnay belum membudaya seperti halnya orang Indonesia. Mencari tempat sampah jelas sama sulitnya melihat orang yang mengamankan sampah bekas ia pakai. Sepeda ontel masih banyak kita lihat namun orang yang memakai motor juga sama banyaknya.

Alat Transportasi Terbatas Dan Suka Jahil

Sulit menemukan taksi tidak seperti di Vietnam, Kamboja alat transportasi yang banyak di minati adalah tuk tuk. Tentang tuk tuk banyak di ulas di mbah google ^_^. Saran saja hati-hati jika naik tuk tuk sebaiknya bertanya dulu harganya baru naik karena jika naik dulu baru bertanya harganya jangan salahkan jika ketemu tukang tuk tuk yang usil karena bisa saja nanti tercengak biaya yang harus dibayarkan.

Negri ini memberlakukan dua mata uang yang satu mata uang Riel asli mata uang Kamboja dan yangs atunya dollar. Nah hanya di negri ini yang nerima uang dollar kumel namun nilai tukarnya sama. Kita bisa belanja pakai dollar dan bisa kembaliannya pakai uang Riel begitu juga sebaliknya. Orang kamboja gak akan bingung saya sendiri yang heran kenapa bisa mereka memakai 2 mata uang namun tidak membuatnya kesulitan.

Satu hal yang membuat hati saya sakit dan gak tega, saat menjelang malam suami mengajak kami melihat suasana pasar malam di ibu kota Kamboja. Dengan hanya berjalan kaki kebetulan rumah tempatnay tinggal tak jauh dari suasana malam tersebut. Menyusuri pasar malam yang bernama Night Market di daerah Preah Mohaksat Treiyani Kossamak, Phnom Penh. Yang memang ramai sekali oleh pengunjung baik itu wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara.

Pasar malam yang tampak mencerminkan sebuah kehidupan yang keras di ibu kota Kamboja ini. Banyak sekali yang berjualan, melihat suasana malam yang gemerlap oleh lampu ditambah lagi jika jalan bergandengan dengan suami tercinta wkwk yang lain pasti bakalan ngelirik dan bilang hemm pasangan yang serasi hahahah.

Begitu banyak makanan yang dijual di pasar malam sulit sekali menemukan makanan halal satu-satunya yang bisa kami nikmati adalah makanan dari negri india arab yang memang ada satu kedai di pasar malam tersebut. Makannya boleh lesehan diluar dengan beratapkan langit dan bintang, boleh juga duduk di kursi yang telah disediakan. Setelah pesan beberapa menu yang terlihat cocok dimata, kamipun menikmati makanan tersebut. Sayangnya saya tetap lebih merindukan tempe goreng dan sambal terasi daripada harus makan ala india arab ini.

Kehidupan Masih Sangat Dibawah Garis Kemiskinan

Lagi asik makan saya perhatikan suasana makan orang-orang yang makan sambil lesehan. Ada yang sudah baru datang dan ada yang sudah selesai. Nah saat melihat yang sudah selesai dan mereka meninggalkan makananya tiba-tiba beberapa anak yang gak tahu datang dari mana tiba-tiba menyerbu makanan sisa. Merekapun langsung meraup, memasukkan kedalam mulut dan menyantap makanan tersebut.

Saya yang melihat pemandangan tersebut sangat kaget, “Ya ampun anak-anak itu pap mereka menyerbu makanan sisa para pembeli!”ucap saya memberitahukan suami. “kasihan banget”

“Ya udah kalau kasihan mama beli beberapa makanan terus kasih ke mereka.”

Sayapun beranjak membeli beberapa makanan dan menghampiri mereka “mereka senang sekali menerimanya, salah seorang dari mereka mengucapkan sebuah kata mungkin ucapan terimakasih dan yang lainnyapun mengikuti.

Sayapun kembali duduk bersama suami namun pikiran saya masih tentang anak-anak tersebut. Mereka tidak meminta makanan pada pengunjung tapi mereka menunggu para pengunjung yang selesai makan. Ya ampun sungguh di tanah Allah yang begitu kaya ini masih ada anak-anak yang terlantar mengharapkan makanan yang enak ….

Saya jadi ingat jaman kecil saya dulu, dimana keluarga saya pun tergolong susah walaupun untuk makan sehari-hari masih bisa terpenuhi namun urusan jajan jelas sangat jarang saya dapatkan. Kebetulan tetangga punya warung saya suka membantunya menjaga warungnya ataupun ikut bantu bungkusin gula atau pun kopi. Ujung-ujungnya pekerjaan saya membantu tetangga tersebut saya diberi jajanan. Nah kalau pingin makan jajanan saya jadi sering membantu tetangga tersebut.

Melihat anak-anak di Kamboja yang menunggui makanan sisa tersebut membuat saya berfikir apakah dinegri ku ada yang seperti itu?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *